Sunday, April 3, 2011

MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP (bab 8)


PANDANGAN HIDUP
Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup didunia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya. Pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya yang terdiri dari 3 macam, yaitu :
  1. Pandangan hidup yang bersal dari Agama, yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
  2. Pandangan hidup yang berupa Ideologi, yang disesuaikan dengan kebudaayaan dan norma yang terdapat pada Negara tersebut.
  3. Pandangan hidup hasil renungan, yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.
Pandangan hidup mempunyai 4 unsur-unsur, yaitu :
  1. Cita-cita apa yang diinginkan yang mungkin dapat dicapaidengan usaha atau perjuangan.
  2. Kebajikan, segala hal yang baik yang membuat manusia makmur, bahagia, damai dan tenteram.
  3. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan.
  4. Keyakinan atau kepercayaan, merupakan hal terpenting dalam hidup manusia.
CITA-CITA
Cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan, yang selalu ada dalam pikiran. Cita-cita merupakan pandangan masa depan dan pandangan hidup dimasa yang akan datang. Pada umumnya cita-cita merupakan semacam garis linier yang makin lama makin tinggi tingkatannya.

Ada 3 faktor yang menentukan seseorang dapat atau tidak mencapai cita-citanya, yaitu:
  • Manusianya yang memiliki cita-cita.
  • Kondisi yang dihadapi selama mencapai apa yang dicita-citakan.
  • Seberapa tinggi cita-cita yang hendak dicapai.
FAKTOR MANUSIA YANG INGIN MENCAPAI CITA-CITA
  • Faktor manusia yang ingin mencapai cita-citanya ditentukan oleh kualitas manusianya.
  • Faktor kondisi yang mempengaruhi tercapainya cita-cita, pada umumnya dapat disebut yang menguntungkan dan yang menghambat.
  • Faktor tingginya cita-cita merupakan faktor ketiga dalam mencapai cita-cita.
Suatu cita-cita tidak hanya dimiliki oleh individu tapi juga oleh masyarakat bangsa dan negara. Cita-cita suatu bangsa merupakan keinginan atau tujuan suatu bangsa dan negara.

KEBAJIKAN
Kebajikan atau kebaikan adalah suatu perbuatan yang mendatangkan kesenangan bagi diri sendiri maupun orang lain. Kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika.
Manusia berbuat baik karena pada hakekatnya manusia itu baik. Makhluk bermoral atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik. Manusia adalah sebuah pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan. Kedua unsur tersebut terpisah bila manusia meninggal. 
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan orang lain untuk dapat bertahan hidup. 
Untuk dapat melihat kebajikan kita harus melihat dari 3 segi, yaitu manusia sebagai mahluk pribadi, manusia sebagai anggota masyarakat dan manusia sebagai makhluk Tuhan.
Suara hati adalah semacam bisikan didalam hati yang mendesak seseorang untuk menimbang dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan. Jadi suara hati dapat merupakan hakim untuk diri sendiri. Sebab itu nilai suara hati amat besar dan penting dalam hidup manusia.
Kebajikan adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan Tuhan.

Kebajikan berarti: berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak meransang bagi yang melihatnya

USAHA DAN PERJUANGAN

Usaha dan perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Sebagian hidup manusia adalah usaha atau berusaha.
Kerja keras pada dasarnya menghargai dan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sebaliknya pemalas membuat manusia iri, miskin dan melarat bahkan menjatuhkan harkat dan martabatnya sebagai seorang manusia.
Untuk bekerja keras manusia dibatasi oleh kemampuan. Kemapuan itu terbatas pada fisik dan keahlian atau keterampilan. Orang bekerja dengan fisik lemah, akan memperoleh hasil sedikit.
Manusia mempunyai rasa kebersamaan dan cinta kasih maka ketidakmampuan atau keterbatasan yang menimbulkan perbedaan tingkat kemakmuran dapat diatasi secara tolong menolong dalam wadah kekeluargaan.
KEYAKINAN ATAU KEPERCAYAAN

Keyakinan atau kepercayaan berasal dari akal atau kekuasaan Tuhan. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, ada 3 aliran filsafat, yaitu:
  1. Aliran Naturalisme, aliran ini berintikan spekulasi mungkin ada Tuhan mungkin juga tidak. Dasar aliran ini adalah kekuatan gaib dari nature dan itulah ciptaan Tuhan. Bagi yang percaya adanyaTuhan, itulah kekuasaan tertinggi. Manusia adalah ciptaan Tuhan karena itu manusia mengabdi kepada Tuhan berdasarkan ajaran ajaran Tuhan yaitu agama. Ajaran agama ada 2 macam, yaitu: Ajaran agama yang dogmatis, yang disampaikan Tuhan melalui ajaran para nabi. Ajaran agama dari pemuka agama, yaitu sebagai hasil pemikiran manusia sifatnya relatif.
  2. Aliran Intelektualisme, besar aliran ini adalah logika atau akal. Akal berasal dari bahasa Arab yaitu qolbu yang berpusat dihati, sehingga timbullah istilah “hati nurani” artinya daya rasa. Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka keyakinan manusia itu bermula dari akal. Jadi pandangan hidup ini dilandasi oleh keyakinan kebenaran yang diterima oleh akal.
  3. Aliran gabungan, dasar aliran ini adalah perbuatan yang gaib dan akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal dari Tuhan, sedangkan akal adalah dasar kebudayaan yang menentukan benar tidaknya sesuatu. Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka akan timbul 2 kemungkinan pandangan hidup yaitu : pandangan hidup sosialisme dan sosialisme religius. Pandangan hidup sosialisme mengutamakan logika berfikir dari hati nurani, sedangkan sosialisme religius mengutamakan kedua-duanya.
LANGKAH LANGKAH BERPANDANGAN HIDUP YANG BAIK

Langkah-langkah berpandangan hidup yang baik yaitu:
  • Mengenal, merupakan suatu kodrat bagi manusia dan tahap hidup pertama dari setiap individu.
  • Mengerti, mengerti disini dimaksudkan pada mengerti tentang pandangan hidup.
  • Menghayati, menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam pandangan hidup yaitu dengan memperluas dan memperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup.
  • Meyakini, merupakan suatu hal yang cenderung memperoleh suatu kepastian sehingga dapat mencapai tujuan hidupnya.
  • Mengabdi, merupakan suatu hal yang penting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya sendiri lebih dari orang lain.
  • Mengamankan, merupakan langkah terberat dan benar-benar membutuhkan iman yang teguh dan kebenaran dalam menanggulangi segala sesuatu demi tegaknya pandangan hidup itu.

MANUSIA DAN KEADILAN (bab 7)

KEADILAN
Pengertian menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah kedua ujung ekstrim yang terlalu banyak telalu sedikit. Beberapa para pemikir yang mendefinisikan keadilan adalah :
  1. Plato, keadilan diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang dapat mengendalikan diri, dan perasaannya dikendalikan oleh akal.
  2. Socrates, memproyeksikan keadilan pada pemerintahan.
  3. Kong Hu Chu, keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bapak sebagai bapak, dan raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya.
Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Atau dengan kata lain keadilan adalah keadaan dimana setiap orang memperoleh apa yang menjadi hak dan menjalankan apa yang menjadi kewajibannya. 

KEADILAN SOSIAL
Bung Hatta dalam uraiannya mengenai sila kelima menulis bahwa keadilan sosial adalah langkah yang menentukan untuk melaksanakan Indonesia yang adil dan makmur. Selanjutnya untuk mewujudkan keadialan sosial itu diperinci perbuatan dan sikap yang perlu dipupuk yaitu :
  • Perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan.
  • Sikap adil terhadap sesama.
  • Sikap suka member pertolongan terhadap yang membutuhkan.
  • Sikap suka bekerja keras.
  • Sikap menghargai hasil karya orang lain.
Asas terciptannya keadilan sosial dituangkan dalam berbagai langkah melalui 8 jalur pemerataan yaitu :
1. Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok.
2. Pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.
3. Pemerataan pembagian pendapatan.
4. Pemerataan kesempatan kerja.
5. Pemerataan kesempatan berusaha.
6. Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan.
7. Pemerataan penyebaran pembangunan.
8. Pemerataan memperoleh keadilan.
BERBAGAI MACAM KEADILAN
Keadilan legal atau keadilan moral
Plato berpendapat keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan yang menurut sifat dasarnya paling cocok baginya (The man behind the gun). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral sedang Sunoto menyebutnya keadilan legal.
Keadilan distributive.
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana apabila hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan yang tidak sama secara tidak sama(Justice is done when equals are treated equally). Pendapat Aristoteles ini disebut juga keadilan distributive.
Keadilan Komutatif.
Keadilan ini bertujuan untuk ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalm bermasyarakat. Semua tindakan yang menjadikan ujung ekstrim menjadikan ketidakadilan dan akan merusak bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.
KEJUJURAN
Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai hati nuraninyadan apa yang dikatakan sesuai dengan kenyataan yang ada. 
"Orang bodoh yang jujur akan lebih baik daripada orang pandai tapi pendusta"
Barang siapa yang tidak dapat dipercaya tutur katanya maka dia masuk kedalam goglongan munafik. Adapun kesadaran moral adalah kesadarab tentang diri sendiri berhadapan dengan hal baik dan buruk. Dalam kehidupan sehari-hari jujur atau tidak jujur merupakan bagian hidup yang tidak dapt dipisahkan

KECURANGAN
Kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nurani. Ada banyak faktor mengapa banyak orang melakukan kecurangan diantaranya :
  1. Faktor Ekonomi.
  2. Faktor Kebudayaan.
  3. Faktor Peradaban.
  4. Faktor Teknik.
Pujiwiyatmo dalam bukunya “Filsafat Sana-Seni” menjelaskan bahwa perbuatan yang sejenis adalah perbuatan yang buruk. Dalam bahasa jawa ada ungkapan “Becik ketitik ala ketara” yang artinya yang baik akan Nampak yang buruk juga akan nyata.
PEMULIHAN NAMA BAIK
Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang akan menjaga hati-hati agar namanya tidak tercemar.
Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakekatnya sesuai dengan kodrat manusia, yaitu :
a. Manusia menurut sifat dasarnay adalh mahkluk bermoral.
b. Ada aturan-aturan yang berdiri sendiri yang harus dipatuhi untuk mewujudkan dirinya sendiri sebagai pelaku moral.
Bila nama baik seseorang tercemar maka orang tersebut akan melakukan apa saja untuk memulihkan nama baiknya. 
Ada 3 macam godaan yaitu derajat/pangkat, harta dan wanita. 
Bila orang tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya maka ia akan terjerumus kejurang kenistaan karena untuk mendapatkan derajat/pangkat, harta dan wanita dipergunakan jalan yang tidak wajar. Untuk memulihkan nama baik manusia harus bertobat dan minta maaf. Tobat dan maaf tidak hanya dibibir saja melainkan harus bertingkah laku sopan, ramah serta berbuat darma serta mempunyai sikap rela dan tawakal yang harus selalu dipupuk.
PEMBALASAN
Pembalasan adalah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan serupa, perbuatan yang imbang. Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat. Sebaaliknya pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula.

Friday, March 25, 2011

KEARIFAN BUDAYA DAERAH MENDUKUNG KETAHANAN BUDAYA NASIONAL (Makalah 2)

 
BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang 

Di antara fenomena atau wujud kebudayaan, yang merupakan bagian inti kebudayaan adalah nilai-nilai dan konsep-konsep dasar yang memberikan arah bagi berbagai tindakan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila masalah ini menjadi agenda pembicaraan yang tidak henti-hentinya, terutama di tengah masyarakat yang sedang berkembang karena kebudayaan dalam keseluruhannya akan terkait juga dengan identitas masyarakat yang menghasilkannya.

Dalam perspektif historis, kita sebagai bangsa telah mengalami berbagai dan berulang kali proses akulturasi, yakni tatkala kita bersemuka dengan kebudayaan-kebudayaan besar dari luar Indonesia, dengan "yang lain", di antaranya: India dengan agama Hindu dan Budhanya, kebudayaan yang menyertai agama Islam, dan kebudayaan Eropa berikut konsep modernisasinya. Dalam sejumlah tulisannya, Umar Kayam telah berkali-kali mengingatkan hal itu.

Akulturasi besar yang terjadi pada masa lampau membuktikan bahwa kita sebagai bangsa mampu menyaring dan menyesuaikan unsur asing itu ke dalam tata kehidupan dengan cara sedemikian rupa, sehingga terasa layak dan cocok serta tak terpaksaan. Kini, kita pun masih berada dalam proses tegursapa dengan "yang lain" itu, terutama dengan budaya Barat, yang dalam kenyataannya telah terlebih dahulu mendunia. Akulturasi ini telah seiring dengan upaya-upaya "pembangunan "di segala bidang.

Pembangunan sebagai suatu proses pada hakikatnya merupakan pembaharuan yang terencana dan dilaksanakan dalam tempo yang relatif cepat, tidak dapat dipungkiri telah membawa kita pada kemajuan iptek, pertumbuhan ekonomi, peningkatan kecanggihan sarana komunikasi, dan sebagainya. Akan tetapi, pada sisi yang lain, pembangunan yang hanya dipandu oleh pertimbangan-pertimbangan ekonomi dan keamanan, yang dalam kenyataannya telah meningkatkan kesejahteraan sebagian (kecil) dari keseluruhan kehidupan bangsa kita, telah pula menciptakan jarak yang lebar antara si kaya dan si miskin, antara kecanggihan dan keterbelakangan. Oleh karena itu, penyimakan yang cermat dan saksama terhadap masalah-masalah budaya yang muncul mengiringinya merupakan suatu hal yang sama sekali tak boleh diabaikan.

1.2 Tujuan 

'Kebudayaan merupakan bagian yang fundamental dari setiap orang serta masyarakat, dan karena itu pembangunan yang tujuan akhirnya diarahkan bagi kepentingan manusia harus memiliki dimensi kebudayaan'.

Harkat dan martabat suatu bangsa, di samping hal-hal lain, juga ditentukan oleh tingkat kebudayaannya. Demikian pula, keunggulan budaya suatu bangsa, begitu bergantung pada daya dukung masyarakatnya sebagai pewaris sekaligus sebagai agen kultural yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat tersebut. Dalam konteks semacam inilah situasi "sadar budaya" yakni, di satu sisi, kesadaran terhadap keserbanekaan bahwa kita sebagai bangsa tidak pernah selalu bersifat singular, tetapi plural; sementara pada sisi lain, kita pun tidak bisa mengisolasi diri untuk tidak bergaul dengan bangsa-bangsa lain berikut budayanya, menjadi semacam imperatif yang mendesak untuk diaktualisasikan lewat berbagai upaya yang dimungkinkan, termasuk di dalamnya lewat "pendidikan" (pembudayaan).

Tujuan dari pembahasan ini akan dikhususkan mengenai KEARIFAN BUDAYA DAERAH MENDUKUNG KETAHANAN BUDAYA NASIONAL.

1.3 Sasaran
Dalam ruang lingkup yang lebih luas peran kebudayaan daerah dalam mendukung ketahanan budaya nasional dimana di negara kita (Indonesia) begitu beraneka ragam suku dan budaya, bahkan di provinsi irian jaya saja memiliki lebih dari 200 suku dan itu memungkinkan bahwa setiap suku memiliki keaneka ragamannya masing – masing baik dari segi bahasa maupun budaya.

• Kebudayaan Daerah Indonesia
• Suku dan Adat Istiadat Di Indonesia
• Bhineka Tunggal Ika


BAB II
PERMASALAHAN


2.1 Kebudayaan Daerah Di Indonesia

Indonesia mempunyai berbagai macam kebudayaan. Hampir setiap pulau ditinggali oleh suku dan ras dan tiap-tiap suku dan ras mempunyai kebudayaannya sendiri. Ada beberapa contoh Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yaitu Suku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy pada umumnya terletak pada daerah aliran sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng – Banten Selatan. Letaknya sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta; sekitar 65 km sebelah selatan ibukota Provinsi Banten.

Masyarakat Baduy yang menempati areal 5.108 ha (desa terluas di Provinsi Banten) ini mengasingkan diri dari dunia luar dan dengan sengaja menolak (tidak terpengaruh) oleh masyarakat lainnya, dengan cara menjadikan daerahnya sebagai tempat suci (di Penembahan Arca Domas) dan keramat. Namun intensitas komunikasi mereka tidak terbatas, yang terjalin harmonis dengan masyarakat luar, melalui kunjungan.
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka mampu secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang (ngahuma), menjual hasil kerajinan tangan khas Baduy, seperti Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu Teureup); tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung serta golok/parang, juga berburu.

Masyarakat Baduy bagaikan sebuah negara yang tatanan hidupnya diatur oleh hukum adat yang sangat kuat. Semua kewenangan yang berlandaskan kebijaksanaan dan keadilan berada di tangan pimpinan tertinggi, yaitu Puun. Puun bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan hidup masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya itu dibantu juga oleh beberapa tokoh adat lainnya. Sebagai tanda setia kepada Pemerintahan RI, setiap akhir tahun suku yang berjumlah 7.512 jiwa dan tersebar dalam 67 kampung ini mengadakan upacara Seba kepada “Bapak Gede” (Panggilan Kepada Bupati Lebak) dan Camat Leuwidamar.

Pemukiman masyarakat Baduy berada di daerah perbukitan. Tempat yang paling rendah berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Sehingga dapat dibayangkan bahwa rimba raya di sekitar pegunungan Kendeng merupakan kawasan yang kaya akan sumber mata air yang masih bebas polusi. Lokasi yang dijadikan pemukiman pada umumnya berada di lereng gunung, celah bukit serta lembah yang ditumbuhi pohon-pohon besar, yang dekat dengan sumber mata air. Semak belukar yang hijau disekitarnya turut mewarnai keindahan serta kesejukan suasana yang tenang. Keheningan dan kedamaian kehidupan yang bersahaja.

2.2 Analisis Permasalahan
Analisis permasalahan Kearifan Budaya Daerah Mendukung Ketahanan Budaya Nasional dapat di tinjau dari berbagai hal misalnya dari teori SWOT (Strength , Weakness, Opportunity, Threat)

2.2.1 Kekuatan (Strength)

• Bhineka Tunggal Ika
Arti Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda-beda tetapi satu jua yang berasal dari buku atau kitab sutasoma karangan Mpu Tantular / Empu Tantular. Secara mendalam Bhineka Tunggal Ika memiliki makna walaupun di Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, kesenian, adat, bahasa, dan lain sebagainya namun tetap satu kesatuan yang sebangsa dan setanah air. Dipersatukan dengan bendera, lagu kebangsaan, mata uang, bahasa dan lain-lain yang sama.
Kata-kata Bhinneka Tunggal Ika juga terdapat pada lambang negara Republik Indonesia yaitu Burung Garuda Pancasila. Di kaki Burung Garuda Pancasila mencengkram sebuah pita yang bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Kata-kata tersebut dapat pula diartikan : Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

2.2.2 Kelemahan (Weakness)
Kurang Sadar Terhadap Pelestarian Budaya Daerah
Masyarakat kita cendrung terlalu sibuk dengan kepentingan masing-masing bahkan lebih ingin merasa unggul dibandingkan orang di sekitarnya jangakan sadar dengan budaya daerah, sadar bahwa ada orang lain yang jauh kurang beruntung saja tidak pernah. Itulah sebagian kecil kelemahan masyarakat kita terhadap ketahan budaya nasional.

2.2.3 Peluang (Opportunity)

Keunikan Budaya Menghasilkan Devisa Bagi Negara
Indonesia Negara yang kaya akan kultur budaya dan bisa kita manfaatkan untuk promosi kedunia luar misalnya Upacara Ngaben di Bali adalah upacara penyucian atma (roh) fase pertama sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah.
Seperti yg tulis di artikel ttg pitra yadnya, badan manusia terdiri dari badan kasar, badan halus dan karma. Badan kasar manusia dibentuk dari 5 unsur yg disebut Panca Maha Bhuta yaitu pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (zat panas) bayu (angin) dan akasa (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atma (roh). Ketika manusia meninggal yg mati adalah badan kasar saja, atma-nya tidak. Jadi ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar.
Dari satu contoh keunikan budaya yang kita miliki dapat menarik wisatawan asing untuk datang kenegara kita dan menambahkan devisa bagi Negara.

2.2.4 Tantangan (Threat)
  •  Pengaruh Teknologi
Sekarang tidak heran jika anak kecil tidak hafal dengan lagu bintang kecil atau topi saya bundar, karena sudah banyak akses yang didapat dari luar dengan kecanggihan teknologi mereka bisa tau lagu apa yang sedang booming saat ini.

  • Musik Tradisional Yang Terlupakan
NKRI adalah sebuah negara yang meliputi ribuan pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, dimana dari sekian banyaknya kepulauan beserta masyarakatnya tersebut lahir, tumbuh dan berkembang berbagai budaya daerah. Seni tradisional yang merupakan jati diri, identitas dan media ekspresi dari masyarakat pendukungnya.
Hampir seluruh wilayah NKRI mempunyai seni musik tradisional yang khusus dan khas. Dari keunikan tersebut bisa nampak terlihat dari teknik permainannya, penyajiannya maupun bentuk/organologi instrumen musiknya. Seni tradisonal itu sendiri mempunyai semangat kolektivitas yang tinggi, sehingga dapat dikenali karakter dan ciri khas masyarakat Indonesia, yaitu yang terkenal ramah dan santun.

  • Sejarah Peninggalan Nenek Moyang
Candi Borobudur pernah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia dimana di dalamnya terdapat Relif kuno yang memiliki kisah disetiap gambarnya. Misalnya kisah Roro Jonggrah yang diaptasi dari relif yang ada pada candi prambanan di daerah istimewa Yogyakarta, jika peninggalan sejarah seperti itu tidak dijaga maka akan rusak bahakan hilang oleh tangan – tangan jail manusia yang tidak bertanggung jawab. Banyak sudah artefak – artefak kuno yang seharusnya menjadi milik Negara dan di musiumkan malah di ambil dengan illegal lalu kemudian di perdagangkan.

2.3 Rekomendasi

a. Teknologi yang semakin canggih dan semakin pesat perkembangannya bisa dimanfaatkan dalam hal promosi kekhasan budaya nasional

b. Kesenian musik tradisional yang hampir terlupakan bisa menjadi kekuatan bagi kita dalam mempertahankan kebudayaan bangsa misalnya musik keroncong, banyak orang asing yang menyukai salah satu jenis kesenian ini terutama Jepang bahkan menjadikan musik keroncong sebagai salah satu kurikulum dalam belajar di salah satu universitasnya.

c. Benda – benda peninggalan sejarah yang sudah hampir punah harus kita jaga bahkan harus medapat hak paten bahwa itu adalah peninggalan budaya bangsa kita.

d. Sadar akan berhaganya budaya daerah semestiny adipupuk sejak dini sehingga keleastarian budaya yang kita miliki tidak tergerus oleh zaman.


BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan 

Kearifan Budaya Daerah Mendukung Ketahanan Budaya Nasional, dapat diterapkan dari segi apapun baik dari kesenian daerah, adat istiadat setiap suku bangsa, music tradisional dan peninggalan sejarah.
Oleh karena itu kita sebagai warga negara Indonesia dan juga sebagai generasi penerus bangsa harus selalu mencintai dan menjaga kelestarian budaya bangsa agar dapat di nikmati juga di pelajari oleh anak, cucu, maupun orang asing yang ingin mempelajari budaya kita dan bukan untuk mencuri dan mengakui sabagai budaya mereka.

3.2 Saran

Cintailah budaya bangsa untuk meningkatkan harkat dan derajat kita sebagai bangsa yang di anugrahi begitu banyak keanekaragamana budaya dan kesenian yang kita miliki dan juga suatu tidakkan yang bijak dan arif untuk mempertahankan kebudayaan nasional bangsa Indonesia.